Friday, June 16, 2006

Segalanya menjadi wajar ketika sains menjelaskan

Gempa yg terjadi disebut sebagai disaster yg asli katanya berasa dari "dis" dan "star"

quote from www.webster.com
Main Entry: di·sas·ter
Pronunciation: di-'zas-t&r, -'sas-

Function: noun
Etymology: Middle French & Old Italian; Middle French desastre, from Old Italian disastro, from dis- (from L) + astro star, from Latin astrum -- more at
1 : a sudden calamitous event bringing great damage, loss, or destruction; broadly :
2 obsolete : an unfavorable aspect of a planet or star a sudden or great misfortune or failure
Secara harfiah artinya bisa lebih mudah dimengerti bahwa bencana dikenal sebagai akibat bintang jatuh. Ya kejatuhan bintang sejak dulu dikenal sebagai penyebab malapetaka. Ya, sejak jaman kuno bintang jatuh dianggap sumber terhadap bencana (malapetaka).

Kita tahu bahwa bintang jatuh juga memiliki (musim) waktu-waktu tertentu, sehingga dikenal hujan meteor. Bumipun juga pernah mengalami kejatuhan meteor. Bahkan kejatuhan meteor ini dianggap sebagai biang kerok punahnya DinoSaurus. Kalau anda mengamati bulan, maka terlihat banyak sekali lubang-lubang hantaman meteor ini. Namun kita tidak menganggap bintang jatuh dibulan ini sebagai petaka. Kitapun tidak menganggap jatuhnya meteor di bumi yg mempunahkan dinosaurus sebagai petaka.
Mengapa ? Lah karena ndak ada manusia disana wektu itu.

Hal yang sama sebenernya dengan gempa. Gempa itu terjadi berkali-kali di bumi ini. Bahkan jutaan kali sejak terbentuknya bumi. Dan bahkan tercatat paling tidak 5 kali gempa berkekuatan diatas 5 SR dibumi ini setiap hari ! ... ya 5 kali gempa diatas 5 SR setiap hari !

Coba tegngok di websitenya USGS ... Atau tengok juga dalam peta dibawah ini yg memperlihatkan gempa diatas 2.5 SR yg terjadi sepekan kemarin berjumlah 243 kali terjadi. Ya, bayangkan bumi ini bergetar-getar sejak dulu.


Apakah yg terjadi di Jogja itu langka ?

Ya hanya karena ada manusia di atas tanah Bantul itu saja lah kita menganggap bahwa gempa adalah sebuah bencana. Padahal gempa adalah sebuah kejadian alam baisa saja.
Jadi kalau kejadian gempa jangan terburu-buru menunuh Tuhan murka, alam menghukum manusia, atau mereka meninggalkan tuhannya dan dipanggil kembali. Memang dahulu manusia tidak tahu bagaimana gempa itu terjadi. Baru limapuluh tahun yang lalu teori gerakan lempeng tektonik diketahui manusia. Ya, baru limapuluhtahun yang lalu !. Masih baru-baru ini saja gempa diketahui bagaimana kemungkinan terjadinya. Manusia masih terus mencoba mengenalinya.
Seratus tahun yang lalu, masih wajar kalau banyak yg menyatakan bahwa gempa itu akibat Tuhan marah dengan manusia. Menganggap bahwa gempa adalah sebuah hukuman, menganggap gempa sebuah ujian atau teguran dan sebagainya hanyalah karena manusia tidak bersedia menerima segala kejadian alam ini menimpanya.

Hujan juga terjadi setiap hari sebagaimana gempa, sejak dahulu juga ... tetapi mengapa hujan dianggap karunia dan gempa sebagai bencana ?

Kenalilah gempa sebagai fenomena dan kejadian alam biasa ... kenalilah dia, selidiki dia, bertanyalah dengan alam, bacalah dalam catatan alamnya yang berupa runtuhan-runtuhan akibat proses kegempaan, kenalilah rekamannya dalam catatan pohon, dalam koral ... Kenalilah perilakunya, dimana saja gempa ini berada ..... sehingga kita hidup damai bersamanya ...

Salam.

7 Comments:

At 6/19/2006 10:43:00 AM , Anonymous Kaezzar said...

mmm emang ada benernya juga..tapi jgn lupa, bumi ini memang bergerak setiap harinya, tapi g semua gerakannya itu kuat dan terjadi di tempat yang dihuni banyak manusia. Apakah Tuhan marah? Apa ini hukuman? azabkah? tegurankah? ataw ada maksud lainkah? g ada yang tau secara pasti, tapi kalau ada orang yang menganggap seperti itu apakah salah? bukankah justru itu akan mengingatkan orang2 yang menganggap demikian untuk senantiasa berbuat baik? 1 hal yang mungkin perlu diingat adalah bahwa Tuhan mempunyai berbagai macam cara untuk menegur umatnya, tapi masalahnya, manusia itu terlalu lemah untuk mengetahui sebuah kepastian. So, sepanjang itu akan mengarahkan kepada sebuah kebaikan, why not? n_n

 
At 6/19/2006 11:27:00 AM , Blogger raisha said...

Dalam pemahamanku pribadi, kehidupan ini berada dalam ketegangan antara determinitas Ilahi dan kehendak bebas manusia. Sampai dimana batas antara keduanya adalah misteri yang belum terpecahkan oleh filsafat sekalipun. Banyak hal bisa menjadi pelajaran ketika bencana hadir, tapi banyak pertanyaan yang tak terjawab adalah bukti eksistensi Sang Maha yang mengetahui segalanya. Wallahu'alam.

 
At 6/19/2006 09:45:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Ya, kadang kala dengan menerima apapun yg terjadi inilah saya menerima kehadiranNYA dimana saja, dalam kondisi apa saja. Gempa bukan bencana ... Earthquake never kill the building kills them !

 
At 6/21/2006 03:14:00 PM , Blogger hanny said...

Postingan ini ilmiah, sekaligus indah. Baru kali ini saya terperangah membaca sesuatu yang sangat scientific tapi punya makna poetic. Saya setuju bahwa 'hidup' terus berjalan dengan atau tanpa manusia ... bahwa karunia dan bencana hanya ada dalam alam pemikiran kita. Jika kita melihat diri sebagai satu kesatuan dengan seisi dunia, kita juga akan memahami bahwa kita selalu menjadi bagian dari karunia atau bencana itu sendiri; seberapapun kecilnya.

 
At 6/21/2006 03:58:00 PM , Anonymous Anonymous said...

Segala sesuatu diciptakan seimbang kan Pak oleh Tuhan? Tata surya, reotasi, revolusi, dan semua pergerakan planet, semuanya seimbang. Ketika manusia kemudian membangun (merusak) keseimbangnan di muka bumi dengan bangunan2 tinggi, atau yang sjenisnya, karena hukum alam yang menyatakan setimbang tersebut, maka mekanisme yang terjadi tentu adalah alam akan menyesuaikan diri dengan beban yang diterimanya (baca:gempa, longsor, etc.) So, ada baiknya kita juga kembali kepada Tuhan yang telah berfirman 1."Segala sesuatu diciptakan seimbang". 2."Dia menjadikan gunung2 menjulang seperti pasak (penyeimbang)".

 
At 7/05/2006 05:57:00 PM , Anonymous Jim said...

Setuju pak, tapi ... setelah tanda seru (!) ndak perlu pakek titik (.) ... gitu loh :D

 
At 8/17/2006 10:45:00 PM , Anonymous SMAIL said...

sebuah peringatan bukan berarti tuhan murka atau benci kepada umatnya baranglkali ini merupakan pertanda bahwa tuhan sayang pada umatnya, memang kita terkadang sok tuli ato buta jika kita di beri peringatan yang skalanya kecil oleh tuhan ya itulah sifat dasar manusia jika selalu mengandalkan egonya tanpa memperhatikan bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar yang lebih powerfull dan lebih dahsyat dari semua kekuatan yang ada di jagat raya ini.
Sunnatullah itulah hukum Allah, semua menuju keseimbangan.karet yang ditarik melebihi daya stressnya akan putus juga.SEMUA MENUJU KESEIMBANGAN.ALLAHU A'LAM

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home