Tuesday, June 13, 2006

Catatan kecil tentang bantuan korban bencana gempa

Kebetulan anak saya yang sedang kuliah di Jogjakarta juga ikut bergerak sendiri menjadi sukarelawan. Dan saya bisa bertanya banyak hal tentang bencana ini. Salah satunya lika-liku memberikan bantuan bencana khususnya gempa. Ada beberapa catatan yg bisa dibagi disini sebagai pelajaran.

Mie instant.

Ntah mengapa bantuan dalam bentuk makanan lebih banyak mie instant dengan segala merek produknya. Namun katanya di Jogja saat ini (sepuluh hari pasca gempa) sudah menjadi jenuh dengan mie instant. Bahkan masyarakat (korban) banyak yg hanya meminta bumbu dapur dan sayuran saja. Masyarakat Bantul, dan Jogja tidak sama dengan masyarakat metropolitan yang menginginkan sesuatu serba instant. Mereka ketika disuguhi mie instant akan lahap pada dua-tiga hari awal saja, karena kecapaian dan trauma. Tetapi akhirnya saat ini mereka sudah "eneg", sehingga memohon bantuan sayuran, minyak tanah, serta bahan makanan lain. Mereka ingin memasak sendiri makanannya.

Ada yg bisa kita pelajari disini, untuk lain kali barangkali sumbangan mie instant harus dibatasi, atau lebih tepatnya bantuan disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat setempat.

Distribusi yang amburadul.
Banyak keluhan terdengar tentang distribusi yg tidak merata. Kalau melihat peta detil kerusakan seperti disebelah ini, terlihat bahwa kerusakannya pun tidak merata. Artinya ada rumah yg utuh ada pula yg hancur dan roboh. Silahkan klick gambar itu untuk melihat lebih jelas.

Pada waktu itu bandara Adisucipto juga tidak dapat digunakan rusak sehingga bantuan lewat udara harus melalui Surakarta (~60 Km dari Jogja). Nah, saya juga banyak mendengar bahwa selama perjalanan dari Solo banyak kendaraan pembawa bantuan ini "dipalak/dijarah" (dalam tanda kutip lo) oleh korban-korban lain ditengah jalan misal sekitar Klaten dsk, sehingga ketika sampai ditempat tujuan sudah tidak lengkap lagi. Ya, gimana lagi, kalau dijalan juga banyak yg minta dibantu juga.
Sehingga tidak dapat dihindarkan juga ketidak merataan ini.

Bantuan yang disampaikan lewat Helicopter-pun juga telah diusahakan menjangkau tempat-tempat yang jauh dari jalan raya. Namun masyarakat harus berebut karena bantuan di drop di lapangan. Dalam berebut ini hanya masyarakat yg rumahnya masih dapat dikunci saja yang berani meninggalkan rumah untuk ikut berebut, bagi yang rumahnya tinggal puing namun masih berniat menunggu sisa puing rumah yg masih berharga tidak berani ikut berebut. Akhirnya yg memperoleh bantuan justru yg rumahnya masih utuh, yang paling sengsara semakin sengsara ... duh gimana lagi ?

Bantuan makanan akhirnya banyak yang melalui posko-posko. Hal ini dicoba untuk menjangkau rumah-rumah yg terjauh dari akses jalan. Ada sebuah cerita yg sulit dihindarkan adalah permintaan KTP atau tanda penduduk bagi yg meminta bantuan. Gimana mau bawa KTP kalau rumahnya saja sudah habis, dompetnya ada dimana lagi, mestinya sudah tidak dapat ditemukan lagi. Tapi bagi petugas tentunya hal ini dirasa perlu supaya tidak salah memberikan bantuan seperti proses perebutan tadi (positip thinking saja).

Kalau dilihat peta keusakan diatas, harus dimengerti perbedaan korban gempa dengan korban banjir atau tanah longsor. Korban banjir akan terlihat jelas dan merata sedangkan korban gempa sangat tidak merata. Hal ini harus disadari bagi posko-posko bantuan korban gempa juga Departemen Sosial yg menangani bantuan.

Bantuan yg diperlukan masih panjang.

Korban gempa pada umumnya mengalami rusak bangunan rumahnya, pembangunan rumah ini disarankan secara teknis baru boleh dimulai dua bulan setelah gempa. Tentunya bantuan yg diberikan menjadi bertambah banyak dalam waktu lama. Bantuanpun diperlukan tidak berlangsung pendek. Bantuan diperlukan tidak hanya dalam duabulan kedepan. Rehabilitasi fasum-fasos mungkin berbulanbulan bahkan bertahun-tahun. Ini tentunya harus dipikirkan juga.

Bantuan pembangunan kembali rumah-rumah yang hancur sudah harus difikirkan saat ini. banuan makanan mungkin sudah cukup. Saat ini perlu bantuan bahan material bangunan, seperti paku, kayu, semen batubata dll.

Karena masih panjangnya waktu yg diperlukan dalam rehabilitasi rumah-rumah ini. Tentunya jangan buru-buru memberikan bantuan saat ini. Perlu waktu yg tepat, kapan dimana dan bantuan apa yg diperlukan saat ini.

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home