Friday, June 02, 2006

Memberikan pelajaran waspada ? atau beritahukan saja kapan gempanya ?


Prediksi gempa atau bencana seolah-olah menjadi sesuatu yg ditunggu2 oleh siapa saja. Bahkan tulisan di Kompas dan IAGI-Web 2003 tahun lalu menjadi buah bibir dibeberapa milist, setelah gempa Aceh. Berita ini menjadi "the most read news" di www.iagi.or.id
Seberapa pentingya sih prediksi ini untuk menyelamatkan korban ? Tentunya orang akan tertarik dengan 'what next', apa yang akan terjadi nanti ?, berapa nomer nomer buntut yg bakalan keluar ?, atau siapa yg bakalan menang sepak bola nanti ....
Ramalan emang sesuatu yg sering dan selalu ditunggu-tunggu dan dicari oleh orang tertentu, termasuk anda kah ?.

Apakah iya prediksi ini paling berperan mengurangi korban ?
Saya rasa akan lebih bermanfaat jika masyarakat sendiri sudah mampu membekali diri dengan "pengenalan gejala bencana" ketimbang menunggu pengumuman si tukang perintah (pemerintah :) tentang akan munculnya bencana dengan early warning, maupun ramalan/prediksi dari ahli geofisika/geologi.

Seperti yg saya gemborkan di beberapa milist serta di blog lama disini ---> "Prediksi dan peringatan dini (Prediction and Early warning)" itu konsumsinya orang- orang "diatas" sedangkan sosialisasi "kewaspadaan" pada bahaya di lingkungan sendiri itu konsumsinya orang "awam", macem kita-kita lah ... :).
Prediksi yg memiliki rentang kesalahan puluhan hingga ratuisan tahun sangat diperlukan dalam membangun sebuah konstruksi bangunan, bendungan, jembatan dan konstruksi lainnya. Sedangkan Early warning diperlukan oleh pengambil kebijakan untuk secara cepat dan tanggap mempersiapkan bantuan setelah bencana terjadi. Bagi masyarakat yg mengalami bencana prediksi serta early warning tidak banyak berarti. Kalau prediksi dengan kesalahan 10 tahun apakah selama 10 tahun kita hanya diam saja ? tentu tidak kan ? Tetapi pengetahuan keselamatan itulah yg diperlukan oleh masyarakat yg diperkirakan akan mengalami bencana.

Skali lagi kuncinya --> Knowledge / Pengetahuan / Ilmu !!!

Prediksi gempa yg keterjadiannya bisa puluhan tahun sekali, dan tsunami besar ini bisa sekali dalam ratusan tahun. Sehingga prediksi ini mungkin hanya bermanfaat utk perencanaan bendungan, jembatan, gedung2 tinggi, serta bangunan2 dan perencanaan strategis lainnya. Kesalahan prediksinyapun bisa meleset puluhan tahun, tempatnya (epicenternya) juga bisa meliputi ratusan Km persegi. Kejadiannyapun bisa sepuluh tahun lagi, seratus tahun lagi, bulan depan, atau bahkan nanti sore !

Peringatan dini ("Early warning") merupakan serangkaian sistem alat untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam. Bisa bencana maupun tanda2 alam yg menarik utk dinikmati. Sistem peringatan dini (early
warning) akan melibatkan dan membutuhkan 'hardware' (alat) dan technology, juga prosedur penyampaian (software), termasuk otoritas siapa yg berhak/wajib menyampaikan (brainware). Bahkan ketika disampaikanpun belum tentu orang akan menghindar setelah tahu. Beberapa tulisan aku baca di web cukup menarik yg intinya "Apakah yg terjadi ketika kau beritahu bakalan akan ada tsunami ataupun Gunung Meletus ? .... beberapa orang akan berjejer di pantai atau di pinggir gunung untuk melihatnya !".

Belajar dari kejadian di Aceh tahun 2004, Pada kenyataannya yang selamat dari bencana Aceh waktu itu banyak yg sudah mengetahui gejala-gejala akan datangnya "bencana" tsunami. Salah seorang dokter AD yg sedang bertugas di Aceh sana waktu kejadian, ketika mengetahui ada gempa kekuatan besar langsung melarikan diri ke tempat lain (naik gunung) dengan mobil, dan selamat. Pada waktu gempa di Jogja kemarin banyak yg berlari keluar rumah dan tidak masuk lagi ketika gempa masih berlangsung yg hanya satu dua menit saja. Dan kejadian gempa yang mereka dengar sebelumnya (Gempa Aceh dll) memberikan kewaspadaan yg tanpa mereka sadari. Seoarng anak kecil di Pulau Simeulue sudah langsung lari naik keatas bila merasakan gempa ketika dipantai.

Dalam bencana di Aceh banyak korban yg kurang mengerti tentang tsunami, sebuah bencana yg "langka" terjadi, baik itu yg berada di Aceh, maupun di tempat-tempat wisata, misal di Phuket Thailand.

Beberapa korban adalah yg tidak tahu dan yg tidak waspada, juga terlihat dari video2 amatir. Misalnya :
1. Crita2 di media menyebutkan bahwa ketika terjadi surut sebelum tsunami justru banyak yg lari menjorok kelaut mencari ikan yg terjebak namun dirinya sendiri yang akhirnya terjebak -> karena tidak tahu.
2. Yang lainnya akibat menonton tsunami karena ada badai tsunami pertama yg relatif lebih kecil.--> yg ini karena tertarik. Kalau anda denger apa yg terjadi di rekaman video2 amatir ini terdengar kata-kata " ... here the bigger one ... here coming again ... wow, now its huge ...etc, etc" ... artinya mereka sudah tahu
sebelumnya. Namun di video itu nampak orang yg berjejer di pinggir pantai, dan terhempas !.

Saat ini saya masih lagi kepingin memberikan "pengetahuan" ke masyarakat tentang bagaimana terjadinya bencana serta tanda2nya, terserahlah mereka dengan pengetahuan ini mau menonton atau menghindar, itu pilihan mereka... thats beyond my control !.

Nah aku pingin bertanya kepada ahli-ahli pendidikan di negeri ini. Kapankah saat yg tepat memberikan pelajaran ttg bahaya ?
- Saat inikah atau segera setelah kejadian.
- Atau menunggu nanti (tahun depan) kalau sudah tenang.

Perlu diingat keterjadian bencana ini puluhan tahun bahkan ratusan tahun sekali, namun rakyat Indonesia ini mnurutku termasuk yg malas belajar dan "pelupa" ... maaf.

Kejadian gempa yg sekali dalam ratusan tahun ini memiliki dampak khusus dalam proses belajar umat manusia ... its part of learning proccess. Belajar tidak harus dengan mengalami sendiri ... ini penting !!
Kakek nenek saya tidak megalaminya ...
Cucu saya mungkin juga tidak mengalaminya ...
Tapi cicit serta cicit-cicitnya .... dalam artian "human race" ... mesti dan harus tahu dan belajar ini. Karena "cascading knowledge" atau "getok tular" inilah salah satu cara "manusia" mempertahankan speciesnya, ilmu pengetahuan sebagai bagian dari survival tool. Atau manusia akan punah dimakan bencana yg tidak pernah dipelajarinya turun menurun ...

"Ilmu yg disampaikan" ... skali lagi ilmu yg disampaikan turun-menurunlah yg menyelamatkan "umat manusia " dari kepunahan !!

Salam
RDP

2 Comments:

At 6/03/2006 12:12:00 PM , Anonymous T. Fatah S. said...

Saya Sangat setuju untuk early warning dengan memberikan pengetahuan. Saya jadi inget waktu kecil saya, saat itu saya sudah tahu (dari kakek) kalo ada lindu(gempa) harus lari ke lapangan, kebetulan kira2 100m dibelakang rumah ada lapangan bola. Padahal kakek saya buta huruf, dan waktu itu saya jga belum sekolah (umur 5 tahunan.
Dari situ bisa di ambil contoh, bahwa apa yg disampaikan masa anak-anak akan sangat melekat di memeory kita. Maka, mungkin efektif jika hal2 tersebut disampaiakan pd saat usia dini.
Bhakan ada hal lain yg menurut saya sebuah warisan cara mengaplikasikan pengetahuan/ilmu menjadi budaya/culture, namaun jka pola penalaran tidak disertakan akan hilang/terputus.
Contohnya (kembali ke pengalaman saya dari pengamatan perubahan di lingkungan kehidupan saya; Dulu sampai dengan saya SMP,di daerah kampung saya di lereng G. Sumbing, Magelang disetiap 17 Agustus dismping memeasang bendera selalu disampingnya dipasang "Geplak", "Ganthol" dan "Kopoh".
"Geplak" adalah, Lembaran anyaman bambu selebar krang lebih 40X40 cm, yang dijepit dan diberi tiang setinggi tiang bendera (4-5m), "Ganthol" adalah Bambu panjang 4-5m dengan ujung yg melengkung/bengkok, biasanya dari akarnya, dan "Kopoh" adalah buntalan kain yang diikat berbentuk bola dan dipasang diujung batang bambu.
Menurut kakek saya, alat itu untuk membantu pemadaman kalo ada kebakaran rumah.

Sekarang baru saya sadari, bahwa 35 tahun yang lalu, masyarakat di pelosok gunung(saat itu belum ada mobil/motor bisa masuk ke desaku) Infrastruktur komunikasi dan transportasi tidak secanggih sekarang, Sistem safety dan security sudah bisa terimplementasikan menjadi sebuah budaya/culture di masyarakat.
Tapi sayangnya, budaya itu sudah hilang mulai tahun 80an, dan nggak ada bekasnya...
Pertanyaan saya, kemajuan atau kemundurankah yang sebenarnya kita jalani, kita pikirkan bersama2, kita telaah dengan seminar2, menelan biaya bertrilyun2...
Mungkin sekedar kita renungkan saja.....Trimakasih.
TFS

 
At 6/04/2006 09:38:00 AM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Trims informasinya mas Fatah.

Saat ini yg perlu difikirkan juga adalah saatnya. Kapan watu yg tepat memebrikan ke mereka. Saat ini saat bagus supaya ingat dan masih hangat dibenak mereka. Namun kesiapan kita juga harus dilihat dahulu.
tau kita persiapkan dahulu sistem pembekalan ilmu ini, tetapi barangkali sudah tidak hangat lagi suasananya

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home