Sunday, June 18, 2006

Efek bulan terhadap pasang-surut, gempa dan gunung api

Mungkin anda pernah mendengar adanya artikel tentang pengaruh bulan terhadap kegempaan, bahkan gempa sering terjadi pada bulan purnama atau bulan mati. Menarik bukan ?

Benarkah ini ?
Apakah ini merupakan penemuan science atau klenik ?

Gempa dan juga letusan gunungapi merupakan kegiatan yg bersifat "seketika" atau mendadak dan dipicu oleh sebuah "trigger" berupa perubahan kecil. Gunung api mungkin didahului dengan gejala-gejala lain sebelum benar-benar erupsi (meletus), baik erupsi effusive (seperti aktifitas Gn Merapi) maupun eksplosif (meletusnya Pinatubo, atau Kralatau dan Tambora). Namun gempa sangat sulit diprediksi dan gempa bersifat lebih mendadak ketimbang Gunung Api. Namun keduanya sangat dipengaruhi oleh kondisi grafitasi bumi pada saat itu.

Sudah cukup banyak penelitian yg memperlihatkan adanya hubungan antara terjadinya gempa-gempa besar dengan pasang surut (tide). memang tidak selalu kondisi pasang-surut maksimum menyebabkan terjadinya gempa. hanya saja pada saat bulan purnama atau bulan mati peluang terjadinya gempa sangat besar.

Apa sebenernya pengaruh bulan terhadap aktifitas gempa bumi ?

Bulan sangat mempengaruhi pasang surut. Pasang surut ini tentu saja mempengaruhi gaya gravitasi bumi dan merubah berat benda. Teori terjadinya gempa sering disebut "elastic rebound" atau proses pelentingan. Seperti ketapel bila dilepas maka kareat akan melentingkan batu didalamnya. Sama juga dengan gempa akibat tekanan pergeseran lempeng tektonik yg tertahan maka efeknya seperi karet yg tertahan. Nah penahan ini sangat dipengaruhi oleh beratnya sendiri, dimana berat benda tentunya tergantung dari grafitasinya. Pernah lihat kan kalau gravitasi di angkasa sangat kecil sehingga melayang. Nah grafitasi di bumi sebenarnya juga berfluktuasi sesuai dengan adanya bulan (daya tarik bulan) dan juga tentunya matahari.

Dibawah ini gambaran bagaimana frekuiensi gempa-gempa dihubungkan dengan peredaran bulan.
Lantas apa yg harus dilakukan.
Penelitian lain yg menunjukkan dimana daerah-daerah "matang" untuk terjadinya gempa perlu diketahui. Dan melihat kondiri pasang surut bukan hal sia-sia, namun tidak perlu takut apalagi trus fobia terhadap bulan purnama. Hanya perlu waspada pada saat bulan purnama.

Jaman dahulu setiap bulan purnama sering diikuti dengan sesajian untuk menolak bala, namun dengan science kita tahu bahwa sebenernya dengan sesajianpun tidak akan menolong dari terjadinya gempa. Justru mungkin dengan kewaspadaan dibulan purnama ini yg menjadi hikmah mengapa dibulan purnama manusia harus memberikan perhatian khusus.

Nah kalau anda tertarik bagaimana teori tentang meningkatnya peluang gempa terhadap pasang surut yg dipengaruhi oleh bulan, matahari dan siklus-siklus lainnya bisa dilihat juga di :
http://www.freewebz.com/eq-forecasting/130.html

Science 19 July 2002:
Vol. 297. no. 5580, pp. 348 - 349
DOI: 10.1126/science.1074601

Perspectives
GEOPHYSICS:
Tides, Earthquakes, and Volcanoes
Junzo Kasahara

Earthquakes and volcanic eruptions are caused primarily by plate tectonics. But as Kasahara explains in his Perspective, several recent studies provide evidence that tidal forces influence earthquakes associated with volcanic activity. This idea was first suggested in the 1930s, but the forces involved were long considered too weak and the evidence too limited. Recent results from the Juan de Fuca Ridge in the Pacific show a particularly clear diurnal pattern attributed to ocean tides.

The author is at the Earthquake Research Institute, University of Ttdokyo, 1,1,1,Yayoi, Bunkyo, Tokyo 113-0032, Japan. E-mail: kasa2@eri.u-tokyo.ac.jp


source picture: http://www.freewebz.com/eq-forecasting/130.html

2 Comments:

At 6/21/2006 12:20:00 PM , Blogger Agus S. Djamil said...

Mas Rovicky,
Gempa di Jogya kemarin tepat pada tgl 29 Rabiul'akhir (27 Mei 2006), atau sehari sebelum bulan mati. Lagi-lagi pada "bulan tua". Tsunami Aceh juga pada kisaran beberapa hari dlm bulan mati. Efek posisi bulan mati terhadap meningkatnya anomali gravitasi sama efek dengan posisi bulan purnama, sama-sama besar.
Ketidakseimbangan gravitasi (anomaly) ini terjadi maksimum pada saat Gerhana (bulan maupun matahari), karena posisi bulan-bumi-matahari yang segaris. Gaya tarik yang anomalous ini bikin bumi yang "liquid" menjadi benjol. Kalau enggak keliru kelonjongan bumi terkacau sebanyak sekitar 5 - 10 cm (saya lupa sumbernya).
Gangguan gravitasi ini saya yakin yang bisa memicu terjadinya "ketapel yang sudah ditarik", stress maximum di dekat patahan atau subduction.
Satu lagi Mas,
Akumulasi awan yang anomaly saya rasa juga dipengaruhi oleh medan gravitasi di bawahnya. Coba perhatikan, bahwa distribusi awan di langit itu tidak random. Tetapi mengikuti pola tertentu. Struktur geologi di bawahnya ikut mempengaruhi. Coba lihat Landsat image, "barisan" awan akan berkorelasi dengan perbukitan, patahan. Silakan cocokkan dengan data seismik.
Mungkin bagus untuk bahan tesis / disertasi, dihitung pergeseran2 sesar geser di beberapa tempat di dunia, lalu dioverlay dengan peta perkiraan gerhana bulan / matahari, dan dari korelasi itu bisa "diprediksi" titik-titik mana yang rawan terjadi gempa pada saat bulan mati ataupun bulan purnama.
Terakhir,
Orang Islam, kalau waktu gerhana, disunahkan untuk berkumpul berdoa, dan sholat berjamaah. Saya sekarang yakin bahwa ini komparatif advantage yang diberikan Allah kepada umat Islam untuk lebih waspada terhadap kondisi instabilitas bumi saat terjadi gravity anomaly itu.
Nuwun, gitu dulu Mas.
Salam dari Brunei

 
At 7/14/2006 10:45:00 AM , Anonymous Anonymous said...

Mas Rovicky,

tanggal 12 Juli kemaren orang2 ribut sama fenomena awan panjang aneh yang melintas di Bantul.
Kira-kira itu apa yaaaa??

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home