Saturday, March 04, 2006

70 Marginal field perlu mendapat perhatian

Ternyata kesimpulan tulisan saya di http://rovicky.blogspot.com/ yg menduga bahwa kenapa lapangan2 di Indonesia itu secara ekonomi nilainya rendah sudah terjawab. Hal ini karena kebanyakan lapangan2 baru yg diketemukan adalah marginal field (lapangan-lapangan dengan jumlah cadangan kecil).
hal ini dijawab Pak SBY yang menyatakan :
-- quote ---
Namun, lanjut Presiden, saat ini ada sekitar 70 sumur minyak di dalam negeri yang kondisinya sebagian marjinal dan sebagian masih ekonomis yang harus digarap dengan baik dan efisien sehingga bisa mendatangkan keuntungan, devisa dan pajak.
---- quote ---
http://www.kompas.com/utama/news/0603/02/134730_.htm

Nah bagaimana membuat lapangan2 kecil ini dapat dikembangkan secara ekonomis.

Belajar dari Malaysia ?
Duh, mau ngga ya kita (BPMIGAS) diajak belajar dari adiknya (PMU) ?
Tempat kerja saya dahulu (Murphy oil) telah berhasil mengembangan lapangan marginal di Sarawak Block. Dan skali lagi pengembangan lapangan-lapangan marjinal di daerah Sarawak ini masih dimotori oleh tenaga GGE Indonesia juga. Apa iya masih kurang yakin dengan kemampuan bangsa sendiri ?

rdp
(GGE = Geologi - Geofisika - Engineer)

--Writer need 10 steps faster than readeR --

6 Comments:

At 3/05/2006 09:25:00 AM , Anonymous Ismail said...

from geologiugm list
ismail


Lapangan marginal ini bisa nggak berubah statusnya ? sebagai contoh pada harga minyak 25 dollar maka lap tsb dianggap marginal ( tdk layak secara ekonomis) , tapi pada harga minyak 65 dollar bisa ekonomis, shg tdk termarginalkan lagi.Kalau bisa mungkin lapangan 2 yg didevinisikan marginal pada tahun sebelum 2000 , sekarang ini seharusnya statusnya sudah bukan marginal lagi.
Atau mungkin dg skenario begini bisa ngaak ya , misalnya suatu lapangan
"dimarginalkan" dulu sehingga harganya murah dan banyak incentif yg
diperoleh, kemudian setelah didapatkan itu lapangan tsb ternyata sebetulnya lapangan tsb mempunyai potensi yang cukup besar cadangannya.
Saya tidak tahu sejarahnya , cuma kadang kadang bertanya , lha Cepu yg notabene punya pertamina itu dulu selama bertahun tahun kan "termarginalkan", kemudian setelah di amabil alih oleh pihak lain jadilah lapangan yang cukup besar, shg terjadi perebutan yang seru spt sekarang ini, kenapa dulu kok cuma dilihat sebelah mata , bahkan oleh yang punya wilayah tsb.Kan cadangan minyak yg besar itu sudah ada sejak dulu kala tidk tiba tiba datang, celakanya lokasinya ada didepan mata dan hidungnya sendiri tidak di
Irian misalnya , apa ini seperti peribahasa : Gajah dipelupuk mata tidak kelihatan semut di atas gunung nampak ( Kenapa Pertamina kok tidak melihat potensi tsb,padahal ada di cepu itu sejak baheula)

ISM

 
At 3/05/2006 11:49:00 AM , Blogger Minarwan said...

Pertamina tidak melihat potensi di Cepu tersebut bisa karena beberapa hal Pak Mail, misalnya:
1. Pemahaman sejarah evolusi cekungan Jawa Timur yang berbeda sehingga rencana eksplorasinya pun berbeda

2. Pada saat Pertamina melakukan studi mereka, konsep ilmu geologi terkini belum ada

3. Data yang ada dipikir sudah cukup sehingga tidak menciptakan peluang melakukan interpretasi yang berbeda atas suatu daerah yang sudah lama dikerjakan. Data baru diambil, dengan spesifikasi akuisisi yang berbeda menghasilkan interpretasi yang lain.

4. Mungkin dari sisi mentalnya emang "pro status quo" kali jadi enggak kreatif?? Yah sapa tahu saja sih, bukan menuduh lho.

 
At 3/06/2006 09:15:00 AM , Anonymous nugrahani said...

Vicky, mengenai pengelolaan marginal field, aku, sebagai pemain bpmigas akan bilang : bpmigas mau loh belajar dari "adiknya" PMU yang kamu puja2 itu ! Juga mau belajar dari Murphy Oil, pun.. percaya ama kemampuan tenaga ahli dari Indonesia.

Aku cuman belon ngerti aja... apa sih beda pengelolaan marginal field di bpmigas dengan di PMU atau / dan apa aja yang udah dilakukan oleh kamu dan temen2 untuk mengembangkan Lap. di Sarawak itu sehingga kamu bilang berhasil (dan bpmigas tidak/belum berhasil ?).

Tolong kasih tau dwoong ! Jadi bisa aku infoin ke temen2 yang "pegang" bagian ini : "ini loh... ada contoh bagus... silakan ditiru !"

Tolong kirimin segera, ya... ! Sebelum keburu basi ! Kirim pake attachment aja via e-mail, jadi bisa aku forward. Makasih banget ya.. Vick !

Salam,
Nuning

 
At 3/06/2006 09:25:00 AM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Sebenernya yg dilakukan PMU tidak jauh beda dengan BPMIGAS. Yang mengerjakannya pun juga temen-temen GGE Indonesia kok. Memang kita harus mengajak temen-temen ini GGE Indonesian berbagi ilmu. Geologist yg sukses mengembangkan lapangan Murphy ini Pak Teguh Prasetyo, kenal kan ? Dan sudah dipresentasikan dibeebrapa tempat SPE dll.

 
At 3/07/2006 02:16:00 PM , Blogger ROCKHEADS-95 said...

salah satu startegi yang berebda di PMU dan BPMIGAS adalah adanya thin thank disana yang disebut kelompok basin eksplorasionist.. kelompok ini baru saja dibentuk kalo ga salah tahun 2003-2004. Salah satu perbedaan lagi adalah adanya term2 di sistem pengelolaan minyak mereka yang bukan murni memakai sistem PSC tetapi merupakan perpaduan antara sistem PSC dan sistem kontrak karya.
di PSC diindonesiapun sudah ada klausul yang memungkinkan GOI-Cq BPMIGAs bisa mengambil alih sleeping area tersebut (saya lupa pasal berapa) dlm peraturan tersebut disebutkan bahwa GOI dapat meminta daerah yang tidak dilakukan kegiatan eksplorasi selama 2 tahun berturut2, namun sayangnya kata2 kegiatan eksplorasi tersbeut sangatlah luas, sehingga kegiatan administrasi eksplorasipun dapat diklaim sebagaia kegiatan eksplorasi. Inilah yang perlu terobosan dari GOI-BPMIGAS yang eprlu mengeluarkan peraturan atau SK yang menjelaskan apa yang dimaskud dengan Kegiatan eksplorasi.. namun sayangnya tidak pernah ada... karena kepentingan politik dan duit buat sekelompok orang masih sangat tinggi disini...
INI yang berebda dengan Malaysia, intinya MAN BEHIND THE GUN... ujay

 
At 3/07/2006 03:59:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Ya saya setuju tergantung man behind the gun. Tetapi aku yakin bukan itu saja faktornya. Dan yg jelas itu masalah sosial yg mungkin diluar kompetensi saya.

Saya lebih tertarik melihat aspek fisis teknikalnya misalnya sistem pscnya, sistem cost recovery dll. Dimana sistem-stem ini yg mejadikan manusia yg membawanya menjadi mudah. Kalau sistemnya berat ya pastilah akan diseret-seret. Membuat sistem sesuai dengan kemampuan itu yg mungkin perlu dilakukan.

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home