Monday, February 27, 2006

Kasus Cepu : Mulailah dari evaluasi secara ilmiah-akademis yang benar !


Peta yg dibuat Prof Koesoemadinata tahun dibuat pada Januari 1995, sewaktu blok ini akan di "farm-out".
("Sumur2 Exxon-Mobil saya yang plot di atas peta prospct yang aseli. Sebagai bukti bahwa yg mengidentifikasi pertama bukanlah ExxonMobil", Koesoemadinata).

"Mungkin yang ditulis Mas Syaiful Jazan ada benarnya. Pada akhirnya mungkin putusan politis yg dipergunakan dalam memutuskan operatorship Cepu Block."

On 2/27/06, Syaiful Jazan wrote:
>
> Sudah kelihatan dengan jelas bahwa block Cepu sarat dengan nuansa Politisnya,jadi apapun kehendak kita semua tidak akan terlaksana,dan sebaiknya ikuti aja dan biarkan masyarakat setempat yang akan menentukan nantinya,yang penting agar hydrocarbon segera bisa dimanfaatkan.
>
> sjn

Mulailah dari evaluasi secara ilmiah-akademis yang benar !

Technical Background

Sejak awal saya selalu berusaha mencari dan berusaha memberikan informasi yang berdasarkan atas penelaahan secara ilmiah-akademis. Salah satunya krono-logis, melihat urut-urutan terjadinya benang kusut dalam kerangka waktu. Juga pendekatan saintifik akademis harus lebih didahulukan dalam setiap evaluasi. Banyak istilah-istilah yg merancukan dalam keputusan lanjut yg menjadikan keputusan tidak tepat. Awalnya saya sangat keberatan ketika banyak menyebutkan BanyuUrip sebagai Giant Field. Tentunya ada kaidah-kaidah tertentu dalam menyebutkan Giant Field. Pertama perhitungan dengan kaidah ilmiah dan akademis yg benar. Apakah benar "dia" sebesar angka itu. Kedua apakah angka itu masuk dalam kategori Giant Field ? Istilah giant field hanya utk satu individu lapangan, bukan kolektif dalam satu block. Jadi tidak ada istilah Giant Block. Lapangan Banyu Urip-pun sudah membusang (mirip kasus busang dengan eksagerasi jumlah cadangan).

Konsekuensi logis dari pemberian istilah ini saja sudah akan memberikan dampak yg cukup berat ketika kelanjutan proses ini berjalan alot dengan munculnya kalimat "Mampukah Indonesia mengelola GIANT field". Beberapa komentar bernuansa politis serta merta bermunculan. Apakah Pertamina mampu, apakah orang Indonesia mampu. Nuansa inipun sudah mulai sarat dengan muatan politis dan kepentingan.

Hanya dengan istilah ini saja sudah akan sangat memojokkan Pertamina bahkan secara khusus meragukan keahlian bangsa Indonesia. Disisi lain ada beberapa yg menganggap bahwa teknologi untuk mengelola giant field adalah teknologi canggih. Tentunya anggapan ini sudah menjadi kelirumologi. Teknologi yg dipergunakan untuk memproduksi lapangan giantpun bukan secanggih teknologi NASA bukan ? Teknologi mengelola lapangan besar sudah dibuktikan mampu dikerjakan oleh perusahaan nasional. Medco berhasil mengembangkan lapangan dengan kondisi mirip (carbonates reservoir di Selatan Sumatra). Istilah giantpun terpelintir untuk mempengaruhi keputusan.

Hukum
Proses lain yg berjalan paralel dengan evaluasi teknis adalah perjalanan kasus hukum yg dimulai sejak awal daerah ini dioperasikan oleh Humpuss, sebagai TAC contract area. Namun situsasi politik dalam negeri yg berubah serta awal dari sebuah kesalahan dalam "awarding"
the block yg semakin runyam. Akhirnya kontrak yg sebelumnya berupa TAC menjadi PSC inipun banyak dipertanyakan bahkan oleh Indonesian Petroleum Association. Dahulu, sekitar tahun 90an ketika aku masih bekerja di LASMO New Venture, pernah terbesit issue bahwa daerah-daerah prosepct di daratan Pulau Jawa hanya akan dioperasikan oleh perusahaan nasional. Namun keputusan2 kemaren menjadikan impian yg masih issue tersebut buyar. Pada prinsipnya PSC (Production Sharing Contract) ini mirip BOT (Build Operate and Transfer). Artinya pada akhir kontrak daerah tersebut dikembalikan dahulu ke negara. Proses perpanjangan yg aslinya dalam setiap kotrak "optional"-pun sudah terpelintir menjadi sebuah "keharusan" demi menjaga masuknya investor asing. Sesuatu yg seharusnya sebuah pemberian approval perpanjangan diplintir menjadi "dispute". Bener-bener pemelintiran kontrak yg akhirnya membuyat.

Indonesia may take over dispute in Cepu oil field Tuesday
www.chinaview.cn 2006-02-27 16:26:52

JAKARTA, Feb. 27 (Xinhuanet) -- The Indonesian government may take over a dispute between the state oil firm PT. Pertamina and U.S.-based oil company Exxon Mobil on Tuesday, if the two companies cannot reach an agreement on the operatorship on the 2-billion-U.S.-dollar Cepu oil field in East Java province, a minister said here Monday.


Ekonomi
Pada saat berlangsungnya "negosiasi" (maaf dalam tanda kutip karena bisa saja yg terjadi adalah pemaksaan :), kondisi perekonomian di Indonesia sedang carutmarut juga kondisi kondisi politis ygtegang menjelang pemilihan presiden langsung. Busung lapar-pun pernah diusung sebagai issue untuk sesegera mungkin mendapatkan income dengan mengocorkan minyak dari lapangan-lapangan ini. Harga minyak yg melambungpun menjadikan keinginan ini semakin berubah menjadi "nafsu" untuk sesegera mungkin mengucurkan minyak. Namun pada saat ini dan hari ini semua sudah melupakan si korban "busung lapar" yg namanya pernah dicatut dalam "negosiasi".

Keekonomian ini tentunya bisa saja sebagai dasar dalam memutuskan. Tentunya ini dapat dilakukan setelah memiliki angka cadangan yg benar dan diperoleh dari kaidah ilmiah dan akademis diatas. Bila angka-angka cadangan dan keekonomian sudah siap, mungkin lebih mudah memutuskan siapa diantara kemungkinan2 perusahaan-perusahan EP yg paling banyak memberikan manfaat ekonomi pada negara, pada bangsa Indonesia. Tentunya hanya dengan mengadu masing-masing draft POD-nya lah (POD=Plan Of Developement) yang paling tepat untuk dibandingkan. Belum tentu Pertamina memberikan yg terbaik buat negara dan bangsa, belum tentu ExxonMobil, bisa jadi third option company (bukan diantara keduanya). Namun sayangnya keputusan berdasar keekonomian inipun juga tidak pernah terjadi.

Politis.
Karena beberapa langkah awal sudah terpelintir (twisted), maka memutuskan dengan kaidah bisnis sudah menjadi begitu sulit. Pemerintah Amerika-pun ikut-ikutan mengutik-utik lewat presiden.
Kamis, 25 November 2004 | 20:11 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Amerika Serikat George W. Bush meminta pemerintah Indonesia mengefektifkan kembali beberapa kontrak minyak dan gas bumi di Indonesia, yaitu di ladang gas Tuban (Jawa Timur) dan Cepu (Jawa Tengah). Permintaan tersebut disampaikan ke Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, saat pertemuan bilateral pemimpin kedua negara, di Santiago, Cili, akhir pekan lalu.


Aspek bisnispun sudah tercoreng, bahkan aspek hukum yg harus dijunjung terkena cipratan noda, dimana TAC berubah menjadi PSC menjadi preseden buruk di dunia perminyakan di Indonesia. Masing-masing yg bertikai menggunakan segala cara untuk memperoleh bagian. Keputusan inipun akan melukai semua pemain-pemain industri migas di Indonesia. Mulai dari aspek ilmiah-akademis, aspek hukum, aspek ekonomi semua runyam karena masalahnya sudah menjadi masalah politik.

Nah apa yg bisa kita pelajari dari kasus ini ?
Saya selalu mengajak untuk memulai dari menelaah sesuai kaidah "ilmiah akademis" dalam memulai setiap assesment. Sebagai seorang yg selalu kekeuh dengan memulai evaluasi sesuai kaidah ilmiah akademis dan juga praktisi di bidang migas, terus terang saya malu. Ya malu .... mengapa keputusan yg seharusnya diawali dengan landasan pemikiran ilmiah-akademis dan evaluasi keekonomian yg benar "terpaksa" harus diputuskan secara politis.

I lost my power now,
But I will take it back !


Salam

RDP
"power = ability to make descision"

3 Comments:

At 2/27/2006 04:59:00 PM , Anonymous Awang said...

Copied from IAGI-net :

Awang Harun Satyana
Mon, 27 Feb 2006 00:00:52 -0800

Semula, yang mengemuka itu hanya Banyu Urip. Dokumen resmi ExxonMobil yang masih saya simpan menulis cadangan lapangan ini (bukan blok Cepu) punya kisaran 200-700 MMBO (Steve Buck, 2000). Kala itu belum seismik 3D. Setelah dilakukan
seismik 3D katanya struktur malah membesar. "Katanya" sebab saya pun sudah tak punya akses ke data mereka sebab ExxonMobil sudah tak lapor lagi ke Pertamina MPS (saat itu).

Lalu, di media yang ramai lebih mengemuka cadangan blok, bukan Banyu Urip lagi. Berapa besar ? Angka bervariasi sekali, dari 400-1200 MMBO. Ini sudah bias.
Berapa sebenarnya cadangan Banyu Urip sebenar2-nya. Tak ada yang tahu, bahkan EMOI pun saya pikir tak akan tahu pasti sebab hanya ada 3 titik sumur yang berderet di tengah. Closure-nya memang gede, tetapi sangat kasar kalau mau memastikan reserve-nya sekarang ini, lalu jadi pertimbangan keputusan.
Berbahaya !

Sukowati-4 baru saja dibor JOB Pertamina-PetroChina, dan kering karena tight reservoir. Nah, Sukowati bertetangga dengan Banyu Urip. Pelajaran penting, siapa bisa mengira sepasti-pastinya reserve, apalagi di karbonat ?

Salam,
awang

 
At 2/27/2006 05:01:00 PM , Anonymous Si Abah said...

Copied from IAGI-net :yrsnki
Sun, 26 Feb 2006 23:04:01 -0800

Vick

Kalau aku bisa nangis darah sebagai WNI danm kebetulan sebagai geologist berkewarganegaraan Indonesia , maka saat inilah aku akan nagis darah.
Tapi apa cukup nangis darah ?

Tentunya kita tidak bisa mengubah apapun yang kelak akan ditetapkan
oleh Pemerintah ( ??????????? apa iya Pemerintah masih bisa yaaa ???).

Kita semua harus memakai "cepu tragedi" (kalau lah ini mau dikatakan demikian), sebagai pelajaran paling mahal bagi Bangsa Indonesia , agar hal ini tidak terjadi lagi.

Bagaimana ???? Saya serahkan kepada Anda - Anda untuk menentukan nasib Bangsa Indonesia agar kita tidak dicaci maki oleh anak cucu kita .

Semoga.

Si-Abah.

 
At 4/16/2014 06:09:00 AM , Anonymous Pengertian Evaluasi said...

Artikelnya sangat membantu

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home