Tuesday, February 28, 2006

Benarkah Indonesia tidak menarik investor perminyakan ? - Lanjutan

Parameter-parameter aktifitas yg tertuang sebelumnya menunjukkan bahwa Indonesia masih terlihat cukup menarik bagi investor pada periode 10 tahun 1993-2004. Rangking diatas 5 besar pada aktifitas pengeboran serta keberhasilan migas yg diperoleh menunjukkan bahwa Indonesia masih dinilai menarik bagi investor. Karena tujuan assesment ini untuk melihat daya saing antar negara (host country) maka perbandingan antar negara akan lebih menarik untuk diperhatikan ketimbang melihat fluktuasi yg terjadi selama periode dasawarsa itu. Tentunya masa 10 tahun tersebut dianggap sebagai masa yg cukup panjang, sehingga perbandingan antar negara akan lebih berarti ketimbang melihat fluktuasi dalam masa 10 tahun ini.

Dibawah ini saya masih mempergunakan hasil evaluasi Wood Mackenzie.

Untuk full cycle economic dapat dilihat bahwa ranking Indonesia turun ke ranking 5. secara mudahnya ternyata jumlah minyak dan gas yg diketemukan tidak mampu memberikan nilai keekonomian yg lebih besar dibandingkan negara-negara lain. Perlu dilihat apakah lapangan-lapangan yg diketemukan berukuran relatif kecil (marginal) ?

Dari "value creation" -nya jugai dapat pula kita bandingkan apakah memang per-"boe"nya rendah ? (boe=barrel oil ekivalen) Dan ternyata benar bahwa nilai US$ yg dihasilkan per-boe-nya sangat rendah sehingga rankingnya jatuh ke level 38 !.
Apa ini artinya ? Mungkin saja ini menunjukkan bahwa berapapun besarnya jumlah minyak dan gas yg dihasilkan dari usaha eksplorasi (& appraisal) tidak menghasilkan nilai USD yg besar. Dugaan saya sementara adalah besarnya cadangan lapangan-lapangan yg diketemukan relatif kecil (marginal), sehingga nilai per-boe-nya rendah. Atau ada kemungkinan biaya ekplorasinya sangat besar. Ada kemungkinan lapangan-lapangan yg baru diketemukan ini merupakan lapangan-lapangan hasil perluasan "petroleum play" yg sama. Sangat mungkin ini merupakan hasil dari eksplorasi pemain-pemain yg sudah berproduksi. Sehingga penemuan ini hanyalah buntut dari penemuan-penemuan sebelumnya, yg biasanya risikonya rendah namun juga jumlah minyaknya juga sedikit (play safe).

Dengan pengeplotan seperti pada gambar disamping terlihat bahwa secara material penemuan-penemuan migas ini cukup tinggi namun dari segi profit rendah. Mengapa hal ini terjadi ? Ya sangat mungkin karena kebanyakan dari marginal field. Sehingga ongkos untuk mengembangkannya menjadi mahal. Sebenernya aneh juga kalau pengembangan di daerah yg sudah banyak fasilitas produksinya saja masih membutuhkan biaya pengembangan yang mahal. Mungkin anda memiliki data-data lain sehingga kita dapat mengetahui mengapa penemuan ini dinilai "high materiality but low provitability" ? Adakah hubungannya dengan cost recovery ? Toh akhirnya berapapun biaya yg dikeluarkan akan diganti oleh produksinya sendiri. Sehingga project-project pengembangan ini senderung tinggi, toh perusahaan / kontraktor tidak sepenuhnya menanggung pembiayaan ? Sehingga walaupun nilainya provitability proyek-proyek pengembangan ini kecil, mungkin sebenarnya dari sisi perusahaan (kontraktor) masih menguntungkan.

Nah saya menginginkan komentar anda, input, info atau sumbang saran
Anda punya data ... ?
just let me know, its for ours

Marginal Field A field that may not produce enough net income to make it worth developing at a given time; should technical or economic conditions change, such a field may become commercial.

3 Comments:

At 3/01/2006 07:47:00 PM , Blogger Minarwan said...

Operational cost tinggi yah Mas.
Hmmm..mungkin karena lokasinya yang susah dijangkau itu Mas. Misalnya di Natuna Sea sana. Atau mungkin di Indonesia bagian timur. Atau mungkin deep water yang otomatis membuat biaya operasional lebih tinggi daripada produksi migas di Jawa atau Sumatera (misalnya).

 
At 3/01/2006 07:52:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Sepertinya aku perlu data lapangan2 mana saja yg diketemukan itu.
Namun bayanganku ya karena lapangan yg diketemukan jumlahnya buanyak tapi cadangannya kecil (marginal). Juga salah satunya deep water adn remote area discoveries, sehingga biaya developemntnya tinggi.

 
At 3/04/2006 08:57:00 AM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Seperti yg saya duga Min, Pak SBY pun tgl 2 maret 06 trus menyatakan :
http://www.kompas.com/utama/news/0603/02/134730_.htm
-- quote ---
Namun, lanjut Presiden, saat ini ada sekitar 70 sumur minyak di dalam negeri yang kondisinya sebagian marjinal dan sebagian masih ekonomis yang harus digarap dengan baik dan efisien sehingga bisa mendatangkan keuntungan, devisa dan pajak.
---- quote ---

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home