Thursday, June 22, 2006

Apa itu "undergroud blowout" ?

Peristiwa yg terjadi di Sumur Banjarpanji-1 (BPJ-1) ini sangat memprihatinkan. Siapa saja sangat prihatin bahwa operasi pengeboran dengan niat baik untuk menambah pasokan energi ini mengalami musibah dan berubah menjadi bencana. Saat ini penelitian dilakukan oleh semua ahli di Indonesia, baik ahli kebumian, ahli konstruksi, ahli lingkungan, ahli sosial kemasyarakatan dll. Penelitian ini harus ditujukan sebagai suatu pembelajaran untuk lebih mengetahui apa yg terjadi dan apa yg harus dilakukan. Dan yang lebih penting bahwa penelitian ini bukanlah pengadilan. Bukan mencari salah siapa tetapi lebih banyak mengapa terjadi.


Berikut saya mendongeng bagaimana kejadian musibah ini dengan cara sederhana semoga membantu mengerti apa yg sedang terjadi.

Dahulu ketika awal-awal eksplorasi minyak di bumi ini, kejadian sumur yang muncrat dengan minyak yg menyembur ke atas, merupakan kejadian yg mengasyikan dan tanda-tanda kesuksesan eksplorasi. Pada waktu itu kesadaran keselamatan dan lingkungan belum secanggih saat ini, sehingga ketika terjadi semburan mereka (para explorer) berfoto mengabadikan penemuannya.

Disebelah ini BO yang terjadi ketika memperoleh minyak di lapangan Spindletop tahun 1900. Sumur ini diperkirakan memuncratkan minyak 3 juta galon (lebih dari 12 000 meter kubik) atau sebesar 80 000 (BPH) Barrel oil setiap hari, sebuah angka produksi yg sangat sulit dijumpai saat ini. Bandingkan dengan lapangan minyak di Indonesia saat ini.
Tuh lihat ... mereka berjejer foto. Coba kalau sekarang aku berfoto begitu ... waddduh pasti GreenPeace an WLHI akan marah-marah .... wupst !

Saat ini peristiwa muncratnya minyak harus dicegah karena alasan keselamatan serta lingkungan. Mulai saat munculnya kesadaran inilah, maka muncratnya minyak (fluida) dari dalam ketika melakukan pengeboran dianggap sebagai musibah atau kecelakaan operasi, karena tidak hanya minyak yg keluar namun juga air dari dalam bumi termasuk material batuan dapat ikut 'mecotot' keluar.

Aliran fluida pengeboran

Dalam kondisi normal, pengeboran dilakukan dengan memasukkan fluida (lumpur pemboran) dari dalam pipa bor sebagai media sirkulasi. Sirkulasi ini diperlukan salah satunya berfungsi untuk menahan tekanan fluida dari dalam tanah. Dalam kondisi normal besarnya tekanan fluida didalam tanah itu sama dengan tekanan tinggi kolom air, masih ingat hukum Pascal, kan ? itu tuh yang rumusnya tekanan sama dengan hasil kali beratjenis x tinggi x gravitasi. Nah kalau tingginya (dalah hal ini kedalaman) diketahui kan kita tahu seberapa besat tekanannya. Tekanan didalam tanah itu bisa saja melebihi tekanan tinggi kolom air sehingga fluida yg dimasukkan harus memiliki beratjenis lebih besar dari BJ air.


Ini gambar kalau tidak dipompakan lumpur dari atas


Kalau sedang dipompakan maka alirannya jadi agak rumit ya ?
Tapi coba perhatikan adanya penambahan dan kehilangan lumpur ketika sedang ngebor.


"Lost" dan "Gain"

Istilah "lost and gain" dalam operasi pengeboran ini sangat lazim dan sangat sering terjadi. Saat ini sudah ada alat yg disebut BOP (BlowOut Preventer), alat ini yang akan digunakan ketika terjadi lost-gain, sebagai katup pengaturnya.
Apabila beratjenis lumpur pemboran memiliki berat yg lebih berat dari tekanan formasi maka akan terjadi masuknya lumpur ke formasi yg porous. Lost merupakan kejadian ketika lumpur masuk ke formasi ini.
Apabila BJ lumpur terlalu kecil, maka lumpur tidak kuat menahan aliran fluida dari pori-pori batuan. Lah, ya saat itu terjadi "gain" atau adanya tambahan fluida yg masuk kedalam lubang sumur. Kalau hal ini tidak teratasi atau terlewat karena proses penyemburannya sangat cepat maka aliran fluida dari batuan didalam tanah ini terjadi terus menerus, Seterusnya fluida akan muncrat keluar melalui lubang sumur dan lubang ditengan pipa pemboran. Ini yang disebut sebagai semburan liar atau "blowout". Yang keluar bisa berupa minyak, gas, ataupun air dan bahkan campuran.

Kondisi tekanan masing-masing lapisan di dalam bumi sana itu tidak seragam, juga tidak di setiap tempat sama. Tekanan fluida pada Batugamping (karbonat) di formasi Kujung di BD-Ridge yang memanjang dari lapangan BD ke daerah Porong ini, berbeda dengan Bagtugamping kujung di Laut Jawa. Berbeda pula perilaku dan sebaran tekanannya dengan batugamping di Baturaja Sumatra, berbeda pula dengan yang di Irian. Memang secara mudah semakin dalam,maka tekanannya semakin besar. Namun ada kalanya sebuah lapisan mempunyai tekanan yg rendah atau bahkan bila disetarakan dengan tinggi kolom air memiliki tekanan dibawah berat jenis air. Ketika ada dua zona tekanan yg berbeda inilah pen-design sebuah sumur harus jeli. Harus tahu dimana harus memasang selubung (casing) yang tepat. Pipa selubung (casing) ini berfungsi untuk mengisolasi zona bertekanan tidak normal, sehingga penanganannya lebih mudah tidak menimbulkan komplikasi.

Design sumur

Nah ketika komplikasi tekanan ini sudah diketahui dari sumur-sumur sebelah-menyebelahnya maka design sumur harus lebih baik dari sumur sebelumnya. Untuk pertimbangan bisnis pada saat ini ada dua hal yg harus diperhitungkan paling dahulu yaitu pertama keselamatan dan kedua keselamatan.... looh kok dua-duanya keselamatan ... ah iya lah, yaw ... kan kesadaran keselamatan kerja saat ini lebih kuat ketimbang hal lain. Hampir semua bisnis memang mendengungkan keselamatan harus lebih didahulukan ... keselamatan pekerja, dan keselamatan lingkungan .... Nah setelah itu baru memperhitungkan biaya.
(ah rdp selalu positip aja ... kalau bisnis kan mesti harus ngirit :) ... Hust !!,
memasang casing untuk menutup ini kan butuh biaya ... HUST !)


Nah design sumur inilah yg dipakai sebagai pegangan ketika operasi.

Komplikasi lost-gain

Ketika terjadi komplikasi lost dan gain ini perlu penanganan dengan teknik khusus. Kedua problem ini ditangani dengan cara yang sangat khusus pula. Namun kalau hal ini tidak teratasi sangat mungkin terjadi "cross-flow", yaitu fluida yg bertekanan tinggi memasok ke batuan yg memilki tekanan fluida rendah. Seandainya hal ini terjadi terus menerus maka terjadilah underground blow out, atau semburan liar didalam tanah. Yang seaandainya berkelanjutan dapat pula terjadi seperti apa yg terlihat di BJP-1.

Underground Blowout (semburan liar bawah tanah)

Untuk kasus di BPJ ini semburan liar telah terjadi dengan material lumpur yg keluar dari lubang-lubang yg bukan dari lubang bor. Lumpur itu telah keluar melalui celah-celah yg terbentuk akibat tekanan tinggi dari dalam tanah. Banyak hal yg harus diketahui sebelum berusaha menghentikan semburan liar ini antara lain :
- Dimana titik-titik lubang jalan keluarnya lumpur ini
- Berapa tekanan bawah permukaan tempat keluarnya.
- Melihat material yg sudah keluar perlu diketahui bagaimana bentuk lubang bor saat ini.
- Setelah diketahui tentunya perlu juga menentukan peralatan apa saja yang diperlukan.
- dll

Tentusaja kita prihatin akan hal ini. Namun dengan pengetahuan yang benar semoga kekhawtiran ini menghasilkan cara yg tepat untuk mengatasi.

RDP
Wah kata temenku ... Jawa timur mengalami dua masalah pengeboran dalam waktu dekat, sekarang ngebornya Lapindo, dulu ngebornya inul :)

16 Comments:

At 6/22/2006 12:34:00 PM , Blogger Minarwan said...

Lho, udah resmi undergound blow-out yah Mas? Apa enggak tunggu hasil penelitian para heolohist dulu?

sucakmin

 
At 6/22/2006 12:40:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

5. Insiden Lumpur Porong: fakta petroleum geology dan data kronologi pemboran
menunjukkan bhw yg terjadi adalah UNDERGROUND BLOWOUT yg ditrigger oleh
prosedur pemboran yang kurang sempurna

sumber ADB di milist IAGI-net
http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/msg13973.html

 
At 6/22/2006 12:46:00 PM , Anonymous Anonymous said...

Mas Vicky,
Systematika cara menerangkannya bagus, bahasanya "gaul", sehingga secara keseluruhan mudah dimengerti, untuk konsumsi dng latar belakang pendidikan SMA/SMP. Hukum Pascal kan di SMP juga udah diajarin. Terimakasih yaa, memberikan penceraha njuga buat saya.
Wassalam,
Harry Kusna

 
At 6/22/2006 01:04:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Mas Harry, ilmu fisika itu sakjane ya mudah ya. Lah wong pinter-pinter atau "dewo-dewo" itu saja yg pelit ngasih tahu. Ben ketok pinter. Seperti kata anda padahal itu kan ilmune cah SMP.

Kalo kerjanya mudah gini ...gajiku kebanyakan kali ya ...hik hik hik hik ...

 
At 6/22/2006 01:11:00 PM , Anonymous Anonymous said...

top markotop lah mas...

 
At 6/22/2006 01:18:00 PM , Anonymous Anonymous said...

Makasih mas RDP. Mau ikut kumpul di Bandung besok sabtu?
Hery

 
At 6/22/2006 01:58:00 PM , Anonymous Anonymous said...

Terima kasih banyak pak atas infonya .. menarik sekali membaca yang beginian, apalagi masih awam masalah perminyakan. however, pak RDP... kayaknya banyak salah ketik tuh pak. hehehehe ..

tjahjo

 
At 6/22/2006 02:21:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Ya begitulah Mas Tjahjo, kalau menulis masih amatiran dan sekedar pelampiasan ekspresi. Lagian hanya bisa nulis disela-sela kerja ... sorriii.
Nanti aku perbaiki lagi deh :)

btw, aku ini sedang mencari kawan yg bersedia membantu memperbaiki eror script di sini. Aku ga tau kenapa lebar kolomnya kecil banget, sehingga tulisannya puanjang kebawah .. trus ada kesalahan wektu aku post scrip wektu mau buat web-metering ... :(

thx

RDP

 
At 6/23/2006 09:49:00 AM , Blogger agus irianto said...

Rruaarr...biasa produktifnya...mas Rovicky ..ini ....di jari-jemari anda ilmu yg sulit2 jadi bisa menariik dan menyenangkan....wuah saluut deh .....bisa gabung jadi juru bicara presiden ..donk..?..hehe..

 
At 6/23/2006 09:51:00 AM , Anonymous Anonymous said...

Mas,

Saya kok masih merasa curiga ttg kemungkinan bahwa kejadian ini adalah 'mud volcanism', yang dipicu oleh pergerakan tektonik didaerah ini ?
Saya belum tahu hasil pengujian tipe material lumpur, fluida dan gas yang keluar bersama lumpur ini, tetapi ciri fisik (saya belum kesana lho mas..) kelihatan seperti Bledug Kuwu ?

Suwun,
Setyadi '83

 
At 6/23/2006 10:18:00 AM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Setyadi,
ahwa yg terjadi saat ini adalah seperti fenomena Mud Volkano bledug kuwu seperti tulisan pada bagian lain disini sebelumnya :
http://rovicky.blogspot.com/2006/06/ada-apa-dengan-mud-flow-di-jawa-timur.html

Memang bumi ini sedang kondisi kritis dan dynamis. Pengeboran, gempa, gunung api dan segala macam gangguan ini membuat alam ini selalu bergerak dinamis.

kejadian gempa, gunung api, pengeboran, blow out, mud flow. semua itu coinsdident tapi apakah coinside, mereka itu korelasional tetapi apakah mereka juga kausal ? Kejadian-2 ini terlihat dalam waktu yg sama, tetapi tidak mudah melihat apakah mereka menunjukkan gejala sebab-akibat.

Pemicu-pemicu gejala alam ini sering tidak linier bahkan chaotic. Tapi penjelasannya tentunya akan rumit. Saya hanya menggunakan Occam Razor "The simplest explanation for some phenomenon is more likely to be accurate than more complicated explanations.".

salam
rdp

 
At 6/23/2006 10:55:00 AM , Anonymous Anonymous said...

Mas, aku menduga ada kesalahan T2D conversion. Katakanlah Top Kujung 1200 ms di depthkan jadi 1800 m padahal harusnya 1560 m. Shg design-operasional drilling dan pemasangan casingnya mawut2. Aku pake Landmark dan IESX untuk interpretasi tapi dlm maslah T2D conversion blm merasa puas hasilnya (accuracy). Ada pengalaman yg bs di share?

Salam kenal

Budi Jakarta
geoscientist anyaran

 
At 6/23/2006 06:30:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

MAs Budi di jakarta,
memang ada ketidak pastian dalam prediksi kedalaman atau anda bilan T2D (time to depht). Design yg baik tentunya harus diawali dengan prediksi yg akurat. Semakin banyak ketidak pastian prediksi harusnya semakin fleksible design yg dibuat. Nah pada waktu operasi (eksekusi) harus bersikap antisipasif dan adaptif.

Design yg kaku akan menyulitkan operasi, namun design yg longgar biasanya lebih memiliki "risk exposure" lebih besar. Nah kalau diterjemahkan dalam urusan bisnis biayanya menjadi mahal !!

Batas toleransi harus dimiliki sebagai ruang gerak dalam operasi. Masing-masing operator akan berbeda dalam mengerjakan kegiatan eksplorasi. Aku sudah ikut di tujuh perusahaan (management type), masing masing memiliki karakteristik yang sangat-sangat berbeda. Nanti saya ceritakan lain waktu

salam

rdp

 
At 6/27/2006 11:39:00 AM , Anonymous Anonymous said...

subhanallah...bagus banget penjelasannya. Ini pak, saya jadi tertarik untuk mengambil judul skripsi mengenai Pengendalian bahaya gas H2S pada saat melakukan drilling. Tahap-tahap drilling itu apa saja? apa bapak punya artikel ttg ini.

 
At 9/07/2009 02:46:00 AM , Blogger Lowongan Geologist & Mining Engineer said...

URGENTLY REQUIRED.

We are looking for Geologist & Mining Engineer who have experience in Copper, Manganes, Gold and Coal.

Please send your cv to aradeazonaline@gmail.com

Requirements:
1. S1 Geologist/Mining
2. Age maximum 40 years old
3. Having more than 5 years experience in Exploration & Open Cut
Mining Operation

Job Description:
1. Able to make Feasibility Study
2. Develop & Manage Exploration Plan
3. Develop Geological & Geotechnical System
4. Generate & Up date Geological Procedures
5. Responsible for reliable Geological Model
6. Manage & Develop Safety System within department
7. Able to use Surpac, AutoCAD, and other Geology software & Geopysics

Please send your CV to aradeazonaline@gmail.com ASAP

Salary "Negotiable"...

PT. Ara Dea Zonaline
Jl. Mitra Sunter Boulevard Blok D/3A
Sunter Jaya 14350
Jakarta Utara
Ph: 021-65303226
Fax: 021-65303610

 
At 6/15/2010 10:20:00 AM , Blogger jtmi said...

National Seminar “Thermofluid” 2010 National Seminar “Thermofluid” 2010 organized by Department of Mechanical and Industrial Engineering, Faculty of Engineering – University of Gadjah Mada.

The purpose of this National SeminarAs a media for the exchange of information for scientists, academics, and engineers on the results of the latest research, operational experience, methods, problems, and solutions practical challenges of the future in the field of thermal and fluid Engineering.

KEYNOTE SPEAKERS :

Prof. Takamatsu Hiroshi (Kyushu University, Japan)
Expert of: Intracellular heat and mass transfer (heat & mass transfer in biological cell, freezing of biological cell)

Prof. Kouichi Miura (Kyoto University, Japan)
Expert of: Coal Engineering 3.

Ir. Budi Basuki (Director of PT Medco E & P Indonesia)
Expert of: Energy and Petroleum Industry Development, The Influence of Energy Industries through Environmental Change Day -

Date Thursday, 5 August 2010
Time 08.00 – 17.00 WIB
Place KPTU Building, 2nd Floor, Faculty of Engineering, Gadjah Mada UniversityJalan Grafika No. 2, Yogyakarta 55281

There’ll be Very large occasion to Present Your Paper in Call of Paper and Poster Session Or as a regular participant.
City tour (optional) will be held in Friday, 6 August 2010.

Destination : Jogjakarta Historical Buildings, Exotic Jogja Panorama, Exclusive Lunch

More information, see: thermofluid.ugm.ac.id

Contact : M. Wisda : 085643032956 Rhea : 085743604380
Akmal I. Majid : 08122789031

Pengiriman makalah full paper ditunggu s/d 28 Juni 2010

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home