Tuesday, March 21, 2006

AADG -- Ada Apa Dengan Geothermal ?

Banyak yg ketakutan akan habisnya sumber atau supply energi di dunia. Keputusan pemerintah Indonesia mengganti BOD dan BOC Pertamina yang lalu menyimpan sedikit harapan akan berubahnya pemanfaatan energi di Indonesia. Menempatkan personil hulu dengan latar belakang geothermal ini menyiratkan ada kesungguhan pemerintah untuk beralih ke geothermal. Dan hal ini perlu disikapi bersama-sama sesama peminat dan pemerhati energi di Indonesia.Keputusan yg brillian yg perlu ditindak lanjuti !.

Ada beberapa alasan mengapa kita harus beralih ke energi geothermal. Dibawah ini diuraikan keuntungan dimana paling tidak ada tiga alasan utama mengapa geothermal.

Potensinya sangat besar

Sudah sangat jelas bahwa negara Indonesia dilewati sekitar 20% panjang dari sabuk api atau sering disebut sebagai "ring of fire". Jalur ini merupakan jalur dimana gunung api banyak dijumpai. Dari gunung-gunung api inilah sumber panas diperoleh.

Menurut perkiraan yg tercatat hingga saat ini ada sekitar20 ribu MWe -- 40% potensi panasbumi dunia --namun yang dimanfaatkan baru sekitar 3-4% saja, jelas ini sebuah peluang yg sangat besar dan perlu dimanfaatkan. Apabila dikonversikan maka total yg 40% ini setara dengan supply minyak bumi sebesar 8 Milyard Barel Ekivalen. Ini masih hanya diperkirakan berdasarkan atas "current technology stages", efisiensi konversi, serta usia sumur yg mampu dipakai selama produksi/operasi. Karena pada prinsipnya daya kalor panasnya sendiri tidak akan habis dalam ratusan bahkan ribuan tahun.

Seberapa sih 8 Milyar barrel ekivalen ini ?
Sebagai gambaran lapangan Minas dan Duri yg terbesar di Asia ini memiliki total cadangan sekitar 4 Milyar Barrel. Sehingga kalau kita mampu memanfaatkan geothermal jelas akan sangat menolong untuk mengurangi subsidi BBM.

Technologicaly Proven

Energi geothermal merupakan energi yg dihasilkan oleh panasnya perut bumi. Panas atau suhu tinggi ini sangat mudah dimengerti sebgai sumber energi. Namun panas saja tidak dapat dimanfaatkan secara optimum. Perlu adanya transformasi energi ke dalam bentuk energi lain sehingga siap pakai. Saat ini teknologi pemanfataan geothermal untuk dipakai sebagai pemanas jelas sudah ada, namun karena Indonesia termasuk daerah tropis kebutuhan panas ini tidak banyak diperlukan.Jusru kebutuhan pendingin yg diperlukan dan yang diperlukan di Indonesia ini terutama adalah untuk penerangan dan transportasi.

Penerangan di Indonesia hampir 100% mempergunakan listrik. Tehnologi konnversi energi panas (steam) menjadi energi listrik sudah terbukti dimana-mana sehingga secara tehnologi tidak ada masalah dengan pemanfaatan energi geothermal ini. Juga kebutuhan untuk penerangan dan transportasi jelas ada di Indonesia. Kereta Api listrik di Jakarta sudah sejak lama memanfaatkan listrik sebagai sumber penggeraknya. Hal ini tentunya juga akan sangat mungkin untuk memanfaatkan geothermal sehingga dipergunakan sebagai energi pembangkit energi listrik juga untuk kebutuhan industri (lapangan kerja).

Aman dari ancaman "penjarahan"

Mengapa saya tekankan hal ini ?. Kebutuhan energi dunia akan meningkat tajam dengan munculnya dua "raksasa rakus energi" yaitu Cina dan India. Amerika yg konsumsi energinya saat ini perkapita paling rakus-pun menunjukkan peningkatan. Paling tidak ketga negara ini akan dengan berusaha susah payah untuk mencari sumber-sumber energi baru yg dapat dipakai untuk memakmurkan negaranya. Banyak ekspansi dilakukan oleh India dan Cina ke negara-negara lain. Sumber energi yg selalu dikejar adalah MIGAS.

Mengapa yg paling dicari migas ?
Migas memiliki keudahan dalam hal transportasi. Dengan sebuah kapal tanker raksasa saat ini mampu membawa ribuan bahkan jutaan ton minyak. Juga kapal-kapal tangker LNG akan dengan mudah membawa gas-gas yg sudah dicairkan ini. Mengapa ditransportasi ? Ya, karena pada prinsipnya kemakmuran akan diciptakan ketika ada "kerja" dan ada aktifitas.

Saat ini energi geothermal masih hanya mampu dikonversi menjadi listrik. Belum ada yg mampu memindahkan listrik antar benua. Memindahkan atau mendistribusikan listrik masih hanya dilakukan dengan dengan kabel laut antar pulau. Dengan demikian kalau mengembangkan energi listrik maka energi tersebut hanya dapat dipergunakan di daerah lokal atau regional yg dekat dengan sumber geothermal tersebut. Artinya pemanfaatan energi geothermal hanya mampu dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri.

Dengan belum dimungkinkannya "membawa listrik" antar benua. Maka mau tidak mau energi tersebut harus dimanfaatkan di Indonesia. Nah, ini berbarti Amerika, India serta Cina yg rakus energi dunia sangat kecil kemungkinannya untuk "menjarah" energi geothermal ini. Kalau toh mereka akan memanfaatkan energi ini dalam bentuk investasi, maka sudah PASTI akan dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri. Sehingga tinggal bagaimana rakyat Indonesia mampu memanfaatkan "kesempatan bekerja" dari pemanfaatan energi yg dihasilkan oleh energi geothermal ini. Bayangkan multiplier effect yang akan dihasilkan di dalam negeri Indonesia !

So, mengapa tidak mengembangkan geothermal yg "aman" dari ancaman "penjarahan" oleh negara-negara rakus energi ini ?

Masih banyak hal-hal positip yg dapat diambil dari pemanfaatan geothermal ini. Namun tiga diatas merupakan hal yg paling penting, energi geothermal ini tidak menghasilkan emisi karbon yang saat ini masih menjadi perhatian khusus dari sisi lingkungan.

10 Comments:

At 3/21/2006 12:33:00 PM , Anonymous Anonymous said...

Abah yg saya pikirkan adalah "aman" untuk tidak dibawa keluar dr Indonesia. Sehingga harus dimanfaatkan didalam negeri. Salh satunya ya untuk industri. Jadi industri harus dijalankan di sini dan multiplier effectnya sangat menguntungkan tentunya Indonesia. Artinya lapangan kerja tetap harus ada di Indonesia kan? Nah saya berpikir soal multpliernya ya tetep disini
- Hide quoted text -

On 3/20/06, yrsnki@rad.net.id yrsnki@rad.net.id wrote:

Vick

Akh masa "aman" ?

Ayam jantan makan jintan
Kaki Bush lagi kesemutan
Energi mah pasti tujuan
Kalau ada pasti jadi rebutan

Si-Abah

 
At 3/22/2006 08:03:00 AM , Blogger Imam Soeseno said...

Luar biasa.
Terimakasih pencerahannya, Mas.

Imam

 
At 3/22/2006 11:04:00 AM , Anonymous Anonymous said...

On 3/22/06, Prasiddha Hestu Narendra phnarendra@patranusa.com wrote: on IAGI-net,

Mas Picky,

"aman" dari sisi tidak dibawa ke LN memang bener berikut efek multipliernya.
Tapi kalo inget2 "karaha bodas" yg telah lalu, dari sisi regulasi dan
kemauan pemerintah buat "ngatur dgn bener dari beberapa aspek" harus dibuat "aman" juga. kalo kita mau "berkaca", inget bbrp variasi kasus:
- buyat di Newmont
- PTM-Exxon di blok cepu
- Freeport
- baru2 ini pembakaran camp di Newmont
- demo masyarakat Bojonegoro (walopun mereka medukung dg beroperasinya blok cepu) yg menuntut sarana fasum terutama akses jalan menuju banyu urip.
Alhamdulillah sekarang sudah selesai dg baik.
- mungkin masih banyak kasus yg tidak sampai ke media massa.

Oh ya berita pagi kemarin di metro, hasil dari laporan BPKP menyebutkan
kalo tahun 2005 korupsi di Indonesia mengalami kenaikan kalo ndak salah
denger Rp. 22 trilyun (walah mentang2 BBM naik korupsi ikut2an naik juga) dan negara dirugikan sampai 33 juta US$

 
At 3/22/2006 11:05:00 AM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Semua konsen yang Prasida sebutkan adalah benar dan real adanya. Bahwa semua itu akan mungkin terjadi pada setiap investasi. Nah, pengembangan energi geothermal ini tentunya tidak direct related dengan problem-rpoblem yg muncul selama ini. Pemilihan jenis energi apapun akan memiliki probabilitistic yang sama utk menuai badai seperti karaha bodas ataupun problem bedugul.

Ya, variasi2 kasus yg Prasida sebutkan dibawah lebih bernuansa "investasi". Artinya setiap jenis investasi di Indonesia mempunyai risiko yg hampir sama.
Namun ada hal pentng yg perlu dilihat adalah "part by part", atau bagian-bagian mana untuk mengurangi risiko ini.

Nah dalam presentasi di IPA convention tahun lalu ada presentasi hasil survey dari PWC (Price WaterHouse Cooper) yg menyebutkan bahwa untuk memperbaiki iklim investasi di Indonesia ini "there is no silver bullet", tidak ada satu langkah yg paling dominan/tepat untuk diambil pemerintah dalam memperbaiki iklim investasi. Yang pelu dilakukan hanyalah "Just DO IT as what we did". Tentunya ini mengajak ntuk terus melakukan hal-hal 'positip' yg selama ini sudah dilakukan. Karena tidak ada satu langkahpun yg "dominan" mengontrol membaiknya investasi. Memang menurut pembicara dari PWC ini mereka dapat melihat adanya "perbaikan" dalam 5-10 tahun sejak terpuruknya ekonomi Indonesia. Tetapi tidak diketahui dengan pasti apa yg menyebabkan investasi membaik dalam 5 tahun terakhir.

Nah tentang temuan hasil BPKP ini ada beberapa hal yg menurutku perlu dilihat dan dicermati tentang "penemuannya".
Apakah jumlahnya yg meningkat itu "yang diketemukan" atau yg riil terjadi memang meningkat ? Apakah sejak dulu BPKP menemukan hampir semua penyelewengan ?
Kerja BPKP saat ini jauuuh lebih bagus dari dulu dalam mengungkap korupsi, artinya "jumlah temuan"-nya meningkat. Tetapi indikasi bahwa sekarang mall-mall semakin ramai, juga jalan semakin macet serta nilai rupiah menguat tidak bisa dipungkiri. Mnurutku ada indikator ekonomi yg kurang tepat untuk mengamati apa yg sebenernya terjadi. Dan yang saya yakini ... "we never know whats happening ... until we finished"

So ..... Just DO IT !

RDP
"duh ternyata hanaya soal duit ...upst !"

 
At 3/24/2006 09:13:00 AM , Blogger Eko Prasetyo said...

Dengan cadangan sedemikian besar, mungkin Indonesia perlu menahannya agar nanti ketika migas abis, negara ini menjadi satu2nya negara dengan sumber potensi listrik besar, dan memaksa industri2 besar dan berat dari Jepana untuk relokasi ke sini karena sumber energi mereka habis.
Mungkin kan?

 
At 3/24/2006 09:24:00 AM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Mas Eko, memang memungkinkan juga untuk menahan. tetapi yg saya kawatirkan malah kalau nanti muncul sebuah teknologi baru, dimana dimungkinkan membawa energi listrik dari satu tempat ke tempat lain. Katakanlah membuat sebuah "Giant Capasitor" atau aki raksasa yg mampu membawa energi listrik yg dihasilkan untuk dibawa ke Jepang dll.

Artinya, pabriknya tetap akan ada disana. Dan kita mlongo lagi melihat listrik dengan aki.

Teknologi ini sekarang masih belum terpikir. Nah saatnya kita memanfaatkannya ya tentu saja lebih cepat lebih aman dari penjarahan.

RDP

 
At 4/01/2006 10:49:00 AM , Anonymous Anonymous said...

Miris bener mendengar penjelasan Mas Rovicky ttg Bangsa Indonesia ini bener2 tidak mengakui kemampuan bangsa sendiri. Banyak orang2 Indonesia yang mempunyai keahlian dibidangnya masing2 dan mereka mempunyai kompetensi dibidang itu dan mereka useless (tidak mau dimamfaatkan oleh pemerintahnya sendiri).....ada apa dengan pemerintah ini...???????
UUD Indonesia pasal 33 menyatakan tidak hanya bumi dan alam saja tetapi seharusnya juga manusia yg hidup dibumi dan alam tsb yg mempunyai keahlian dan kepedulian thd negara ini bener2 dimamfaatkan oleh negara dan pemerintah demi kepentingan rakyat banyak yg semakin lama semakin menderita..........
Saya yakin dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi kita tidak kalah dengan bangsa lain. Berapa banyak lulusan luar negeri yg dihasilkan oleh BPPT dan dari yg lain2nya, mereka sangat mendalami ilmu yg mereka miliki tetapi pemerintah tidak mencoba mengexplor kemampuan yg mereka miliki, memberikan wadah bagi mereka untuk berexperimen dan menghasilkan sesuatu yg lebih berguna bg bangsa Indonesia............keadaan memang susah tapi bagi orang2 yg masih punya kepedulian terhadap bangsa ini tidak perlu merasa patah semangat justru dari orang seperti mas Rovicky ini saya mengharapkan munculnya lilin2 baru yg akan lebih menerangi hati pemerintah kita bahwa bangsa ini bangsa yg besar dan kita mampu mengurus kebutuhan kita sendiri..........maju terus mas Rovicky saya menunggu posting anda berikutnya

 
At 4/01/2006 06:35:00 PM , Anonymous Anonymous said...

Mas Vicky, dulu jaman pertengahan 90an geothermal pernah ramai, kami di HMTG pernah sampe bikin seminar segala (biasa, kalo bikin seminar temanya populer banyak sponsor :D...). Tapi habis itu tiba-tiba menghilang, nggak populer lagi. berhubung aku nggak pernah serius mengikuti, jadi nggak tahu kenapa tiba2 geothermal jadi nggak populer, padahal kan logikanya harusnya kita pake geothermal karena kita punya banyak. Sebabnya kenapa ya Mas? apa ada hubungannya dengan harga minyak dst. mohon pencerahannya mas.....

 
At 4/01/2006 10:48:00 PM , Blogger Rovicky Dwi Putrohari said...

Wah Koenil Mungkin lebih beruntung masih sempat mendapatkannya di kampus. Saya dulu lebih banyak di iming2 dengan migas.

Yang paling bagus sebenernya memanfaatkan local source energy. Misal Jawa dan Bali yg paling pas memang geothermal, Kalimantan paling pas dengan batubara. Lah skrg ini saya ngga tahu kenapa pembangkit di Jawa pakai batubara, sedang di Kalimantan pakai diesel. Jelas ada pemborosan dengan memindahkan bahanbakarnya, kan ?

Dulu menteri pertambangan dan energi lebih tepat disebut sebagai menteri perminyakan. Namun sekarang sudah ada perubahan, kita dukung saja ramai-ramai.

 
At 4/09/2006 12:33:00 PM , Anonymous Anonymous said...

Saya kok kurang optimis dg geothermal. Kenyataannya susah mendapatkan reservoir yang benign.Seperti di Gn Salak itu.Beberapa sumur eksplorasi yang saya ikuti, satu lokasi Acid, yang lain nggak ada fracture/reservoir.

Selama ini selalu diberitakan cadangan sekian ribu MW.
Apa iya..? Darimana angka ini?
Kalau cuma mengukur luas kenampakan thermal permukaannya (seperti mata air panas, alterasi) sepertinya meyakinkan.
Tetapi setelah dibor, lhoo kok nggak ekonomis ya....

Almarhum Unocal malah sempat mau menjual geothermalnya, walau sempat beli wayang windu (tolong dikoreksi kalau salah).Amoseas lapangannya ya di darajat itu , nggak nambah2.
Yang di bedugul itu, dulu dengernya nggak ekonomis. Entah kenapa jadi ramai lagi. (masalah politiknya yang lebih ramai...).
Pertamina punya di sibayak sama kamojang, kok nggak ngebor lagi di daerah Ijen sana yaa. Apakah Acid juga di daerah sana?

amir13120@yahoo.com

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home